Dialog Islam-Kristen digelar di Vatikan, 4-6 Nopember 2008. Setelah kunjungan bersejarah Raja Abdullah ke Vatikan beberapa saat yang lalu, tentu forum dialog tersebut akan memberikan harapan baru tentang hubungan antar-agama yang makin toleran.
Betapa indahnya dunia ini jika dua agama tersebut sama-sama membuka lembaran baru untuk sebuah peradaban manusia yang dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan membangun budaya saling menghargai. Selama ini, hubungan antara keduanya kerapkali diisi dengan pelbagai peristiwa sederhana yang seolah-olah menggambarkan suasana konfliktual di antara keduanya. Jika terjadi sebuah peristiwa sekecil apapun yang menyangkut kedua agama tersebut, maka kemudian digambarkan seolah-olah menjadi persoalan yang dapat membangkitkan memori “perang salib” yang tragis itu.
Setidaknya ada dua kelompok yang saling berkontestasi untuk menghadirkan makna dan nuansa dalam relansi dua agama samawi terbesar tersebut: Pertama, mereka yang memandang toleransi sebagai pilihan final dan manifestasi dari titik temu (common word). Mereka belajar dari masa lalu dan mencoba merebut kembali makna toleransi yang terdapat dalam agamanya masing-masing. Kelompok ini diwakili oleh pihak Vatikan dan pemimpin dunia Islam, di antaranya Raja Abdullah (Saudi Arabia) dan Thayeb Erdogan (Turki).
Keterlibatan kedua negara yang sebagian besar penduduknya adalah Muslim ini menarik perhatian. Karena keduanya merepresentasikan dua arus politik yang berbeda. Saudi Arabia merepresentasikan negara-agama, yang melandaskan politiknya pada Syariat Islam. Sedangkan Turki dikenal sebagai kampiun negara sekuler, yang terlepas dari diktum keagamaan dalam ranah politik. Tapi, keduanya mempunyai titik-temu untuk membangun kesepahaman dan dialog yang konstruktif dengan Kristen. Karena itu, sejauh ini arus toleransi merupakan wajah mayoritas dari kalangan Muslim dan Kristen.
Kedua, mereka yang beranggapan, bahwa konflik antar-agama merupakan “titah” yang tidak akan pernah terselesaikan. Harus diakui, bahwa mereka yang berpandangan seperti ini tumbuh subur dalam setiap agama (Karen Armstrong: 2000). Mereka, utamanya kalangan fundamentalis-ekstremis, yang senantiasa memandang yang lain sebagai musuh abadi. Mereka menganggap hanya ada satu jalan untuk mengatasi hubungan antar-agama, yaitu perang atau kekerasan. Meskipun kelompok ini merupakan kelompok minoritas, tetapi ekspresi keagamaan mereka cukup lantang. Bahkan jika dibandingkan dengan kelompok yang pertama, kelompok yang terakhir ini jauh lebih militan dan artikulatif. Mereka mampu mengkapitalisasi seluruh isu untuk disimpulkan sebagai konflik antar-agama.
Pemandangan tersebut semakin mengukuhkan pentingnya agenda dialog Islam-Kristen. Inisiatif untuk menemukan titik-temu, sebagaimana diinisiasi pihak Vatikan harus terus dilakukan untuk menarik simpati yang lebih besar dari umat masing-masing, bahwa dialog untuk mencari titik-temu merupakan sebuah keniscayaan untuk mewujudkan kehidupan yang toleran. Para tokoh agama dan tokoh politik mempunyai tanggungjawab yang sama besarnya untuk menginspirasikan kepada pengikutnya perihal pentingnya toleransi untuk membangun sebuah masyarakat yang adil, maju dan beradab.
Di samping itu, yang tidak kalah penting yaitu setiap agama harus mampu mengantisipasi pelbagai kecenderungan ekstremitas yang makin menguap, baik disebabkan faktor internal agama itu sendiri maupun faktor ketidakadilan global.
Tariq Ramadan yang turut hadir dalam dialog tersebut mengemukakan, bahwa masalah utama yang dihadapi oleh Islam dan Kristen adalah hilangnya kesadaran dan integritas etik. Teologi dari kedua agama samawi tersebut harus menjawab masalah krusial, terutama dalam rangka menjawab dua masalah besar, “krisis ekonomi” dan “logika perang” yang telah menghancurkan kemanusiaan universal (The Guardian/6).
Dogmatisme yang melekat dalam agama merupakan tantangan tersendiri, karena agama lalu dijadikan sebagai garansi teologis bagi masalah internal agama yang bersifat eksklusif. Dogmatisme pada akhirnya menjadi kendala utama bagi toleransi (Abid al-Jabiry: 2002). Adapun masalah yang menyangkut ruang publik kerapkali dilupakan oleh penganut kedua agama tersebut. Di sini, Islam-Kristen harus mampu menyentuh jantung persoalan kemanusiaan yang paling subtil.
Tentu, dialog yang diprakarsai oleh pihak Vatikan di atas sejatinya dapat memberikan nilai tambah bagi dialog serupa di Tanah Air. Jika di hulunya sudah menginisiasi sebuah dialog yang konstruktif bagi kemanusiaan, maka hilirnya pun harus menangkap makna tersebut untuk mengukuhkan spirit kebangsaan. Perlu dialog-dialog teologis yang memungkinkan lahirnya teologi bagi problem riil masyarakat, diantaranya yang berkaitan dengan kemiskinan, lingkungan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Apalagi dalam konteks historis, kita mempunyai paradigma kebangsaan yang kukuh, khususnya tatkala Bung Karno merumuskan diktum “ketuhanan” dalam Pancasila. Dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno menjelaskan perihal “ketuhanan” sebagai “ketuhanan yang berkeadaban”. Yaitu, pola keberagamaan yang saling menghormati dan menghargai antara satu agama dengan agama yang lain. Di sini, paradigma ketuhanan bukan dalam konteks menebarkan kekerasan, melainkan justru dalam rangka mengukuhkan perdamaian dan toleransi.
Dialog pada hakikatnya bertujuan untuk menumbuhkan kesepahaman dan kehendak untuk menghargai perbedaan. Siapa tahu justru di dalam perbedaan terdapat keindahan dan keistimewaan. Dengan memahami perbedaan, maka kita dapat belajar bahwa ada kebaikan di luar kebaikan yang kita pahami dan yakini selama ini.
Maka dari itu, semakin banyak kita berdialog, maka semakin besar peluang kita untuk memecahkan masalah kemanusiaan yang makin menjerat bangsa ini. Di sini, pada tahap selanjutnya diperlukan jaringan yang kuat di antara mereka yang peduli dengan isu toleransi. Suara mayoritas yang diam ini harus digerakkan menjadi sebuah realitas yang massif. Apalagi di tengah kencangnya arus gerakan yang menyuarakan intoleransi, maka dialog yang didasari pada komitmen kesadaran dan integritas etik menjadi sebuah keniscayaan.
Dengan demikian, inisiatif dialog akan sangat membantu terwujudnya kesadaran baru dalam ruang publik, tidak hanya pada tingkat global, melainkan pada tingkat masyarakat yang paling bawah sekalipun. Sekarang, tugas kita yang tidak kalah beratnya adalah bagaiamana menerjemahkan dialog Islam-Kristen pada tingkat akar rumput, sehingga ketuhanan yang kita sama-sama keyakini dapat membangun keberagamaan yang berkeadaban, sebagaimana cita-cita Bung Karno di atas.