Feeds:
Posts
Comments

Setelah perang yang berlangsung tiga pekan, Israel dan Hamas menyepakati genjatan secara sepihak. Israel meminta Hamas agar menghentikan serangan ke wilayah Israel. Sedangkan pihak Hamas meminta agar perbatasan Gaza dibuka, blokade dicabut dan militer Israel mundur dari wilayah Jalur Gaza.

Permintaan tersebut sepertinya sulit dipenuhi. Sebab, sejauh ini belum ada perbincangan yang serius untuk mengambil jalan tengah. Keduanya, baik Israel maupun Hamas gagal membicarakan perihal pemecahan yang menguntungkan keduanya. Sejauh ini, masing-masing pihak bersiteguh pada pendiriannya.

Kondisi politik yang seperti ini, tentu mempunyai kerentanan tersendiri. Setiap saat, kedua belah pihak bisa mengambil langkah sesuai kehendaknya sendiri. Apalagi dari pihak Israel, penghentian serangan ini diduga berkaitan dengan pelantikan Obama sebagai Presiden AS ke-44 dan persiapan pemilu Israel pada tanggal 10 Pebruari nanti.

Adapun dari pihak Hamas, tindakan penghentian serangan rudal ke Israel juga diduga untuk menyelamatkan korban yang masih hidup dan memberikan kesempatan bagi bantuan kemanusiaan agar diterima oleh warga Gaza, yang dalam beberapa pekan terakhir sulit mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari.

Jadi, sebenarnya genjatan senjata kali ini belum memberikan kepastian tentang masa depan konflik Israel-Hamas. Keduanya telah gagal untuk membincangkan masalah perdamaian. Padahal, perdamaian merupakan harga mati untuk mengembalikan hubungan keduanya secara normal. Kenapa harus berdamai?

Pertama, Sikap saling menafikan kedaulatan di antara kedua belah pihak sudah terbukti gagal. Sikap Hamas yang tidak mengakui eksistensi Israel harus diakui merupakan sikap yang sama sekali tidak realistis. Israel sudah merdeka sejak tahun 1948, dan pada tahun 1949 diakui oleh PBB.

Di pihak lain, Hamas merupakan salah satu partai pemenang pemilu di Palestina pada tahun 2006. Secara demokratis, Hamas mempunyai hak yang sama untuk diakui sebagai partai yang mempunyai kekuatan politik di Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Sikap Israel yang menolak eksistensi Hamas merupakan langkah yang tidak realistis dan hanya sebuah kekhawatiran yang berlebihan.

Kedua, ideologi dan tindakan kekerasan yang dilakukan keduanya juga menelan korban yang besar. Di pihak Israel ada belasan korban, sedangkan di pihak Hamas ada ribuan warga yang tewas dan luka-luka. Kekerasan hanya akan menambah kesengsaraan bertambah. Persoalannya bukan pada besar kecilnya korban yang jatuh, tetapi pada instabilitas dan psikologi ketakutan yang ada pada keduanya.

Sebagaimana dalam teori spiral kekerasan, bahwa kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan yang lain. Artinya, Hamas yang jauh lebih besar korbannya akan semakin solid karena melahirkan generasi-generasi yang siap melakukan pembalasan. Sementara, Israel akan melakukan pembelaan agar warganya selamat dari gangguan Hamas dengan menggunakan cara kekerasan juga.

Perdamaian

Maka dari itu, pilihan yang paling realistis dan valuable bagi kedua belah pihak yaitu menempuh kembali jalur perdamaian. Edward W. Said (2002),intelektual Kristen-Palestina, memandang tidak ada pilihan lain yang lebih tepat untuk menyelesaikan masalah Israel-Palestina kecuali masing-masing pihak meyakini tentang pentingnya perdamaian secara adil dan menguntungkan kepentingan kedua belah pihak.

Memang, selama ini kerapkali dilakukan perdamaian antara Israel-Palestina, antara lain Camp David, Wyne River, Oslo, Syarm Syaikh, Teba dan yang terakhir Annapolis. Apa yang salah dari pertemuan tersebut?

Said memandang, bahwa nota perdamaian yang dilakukan kedua-belah pihak secara nyata tidak menyentuh inti persoalan. Yaitu soal kedaulatan Palestina. Misalnya, kesepakatan Oslo yang merupakan langkah maju dari kesepakatan Israel-Palestina, karena pihak Israel bersedia memberikan Jalur Gaza dan Tepi Barat kepada Palestina. Yang kurang dari kesepakatan tersebut, menurut Said, pihak Israel hanya memberikan “otoritas otonomi”, bukan “otoritas mutlak”. Faktanya, Jalur Gaza dan Tepi Barat masih dikontrol oleh Israel.

Kesepakatan yang relatif maju adalah kesepakatan Annapolis, yaitu perihal solusi dua negara (two-state solution). Kesepakatan ini sebenarnya akan disahkan pada akhir tahun 2008 di masa jabatan George W. Bush. Hanya saja tersandung oleh adu-rudal Israel-Hamas.

Maka dari itu, kedua belah pihak harus membicarakan kembali soal solusi dua negara tersebut. Titik-tekannya, kesepakatan yang akan dibuat harus diletakkan dalam konteks menguntungkan kedua belah pihak. Belajar dari kegagalan kesepakatan yang lalu, bahwa Israel kerapkali mendekte mediator, baik AS maupun negara-negara Eropa, untuk menjadikan Israel sebagai pihak yang paling mendominasi.

Ada sejumlah masalah penting yang harus disepakati, antara soal genjatan senjata secara permanen. Kedua belah pihak tidak lagi diperkenankan untuk melakukan penyerangan secara sepihak dengan dalih apapun. Keduanya juga harus mengakui eksistensi wilayah masing-masing, karena hanya dengan cara itulah perdamaian dapat ditempuh. Israel secara de facto adalah negara yang mempunyai dukungan kuat dari AS, negara-negara Eropa dan sebagian besar negara Arab. Sedangkan Palestina juga mempunyai dukungan dari negara Arab, Amerika Latin dan dunia Islam lainnya.

Faktor AS, Iran dan Suriah

Sebenarnya, faktor yang paling dominan dalam konflik Israel-Palestina adalah faktor AS. Sebab seluruh kesepakatan di antara keduanya tidak pernah lepas dari Peranan AS. Sementara AS selama ini hanya merepresentasikan kepentingan Israel dan kerapkali mengabaikan kepentingan Palestina. Intervensi lobi-lobi Yahudi di Senat, Kongres dan Gedung Putih masih sangat kuat.

Pertanyaannya, apakah Obama akan menghadirkan sesuatu yang baru bagi masa depan perdamaian Israel-Palestina? Sejauh ini, Obama menjanjikan perdamaian di Timur-Tengah terwujud, sebagaimana disampaikan melalui Hillary Clinton yang akan menjabat sebagai Menteri Luar Negeri.

Hanya saja, publik masih ragu dengan kebijakan politik luar negeri Obama, karena besarnya pengaruh lobi-lobi Yahudi di AS. Terakhir, Israel dan AS menandatangani kesepakatan larangan pengiriman bantuan senjata ke Palestina. Sementara Israel setiap saat mendapatkan suplai persejataan yang paling modern sekalipun.

Di pihak Hamas, ada hal yang amat rumit dalam mencapai perdamaian. Sebab, Hamas bukanlah pihak yang tanpa kepentingan. Ia bersikap keras terhadap Israel, karena selama ini mendapat dukungan dari Iran dan Suriah. Kedua pihak ini adalah negara-negara yang selama ini merasa terancam dengan keberadaan Israel. Meskipun Iran dan Suriah berusaha menutup-nutupi tentang “koalisi terselubung” di antara mereka, tetapi dalam KTT Doha beberapa hari yang lalu publik pun mencium aroma koalisi itu. Ada bau Iran dan Suriah dalam serangan Hamas ke Israel.

Maka dari itu, penyelesaiannya adalah kemandirian dan kemerdekaan politik di antara kedua belah pihak. Palestina harus bisa meyakinkan Hamas, bahwa kepentingan nasional harus diletakkan di atas segala-galanya daripada kepentingan Iran dan Suriah. Pihak Fatah dan partai-partai politik lainnya di Palestina harus mampu meyakinkan Hamas, bahwa ideologi dan tindakan kekerasan bukanlah solusi bagi masa depan Palestina.

Di pihak lain, AS harus mampu meyakinkan Israel, bahwa anak emasnya akan aman di samping Palestina jikalau mampu memastikan bahwa perdamaian yang menguntungkan pihak Palestina akan menguntungkan pihaknya pula.

Serangan Israel ke Gaza hampir bisa dipastikan makin memperburuk hubungan Israel-Hamas. Konsekuensinya, peta perdamaian akan mengalami kebuntuan, bahkan kegagalan. Inilah hal yang tak pernah terpikirkan, baik oleh Israel maupun Hamas.

Menurut Marwan Bishara (2008), analis politik stasiun televisi al-Jazeera, dampak dari serangan tersebut akan menggarisbawahi masa depan perdamaian. Dua sosok yang akan menanggung kerugian, yaitu Mahmud Abbas dan Presiden AS terpilih, Barack Obama.

Mahmud Abbas ditengarai sebagai pihak yang mempunyai hubungan mesra dengan Israel. Meskipun Abbas menyatakan, bahwa serangan Israel merupakan kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa ditolerir, tapi masyarakat Arab sudah kadung menggarisbawahi Mahmud Abbas sebagai pemimpin Otoritas Palestina yang gagal, karena tidak mampu meredam nafsu perang Israel yang dikenal ganas terhadap Palestina. Setidak dalam 60 tahun terakhir.

Sedangkan Obama, sejak kampanye hingga terpilih sebagai Presiden AS ke-44, dielu-elukan oleh dunia Arab sebagai harapan bagi perdamaian yang sesungguhnya. Bahkan di Timur-Tengah muncul slogan, “Obama Insya Allah”. Sebuah perasaan optimisme, bahwa Obama relatif mengenal realitas dunia Arab dan dunia Islam lainnya. Tapi, setelah serangan ke Gaza, mayoritas kalangan di Timur-Tengah mulai memunculkan kekecewaan terhadap Obama sebagai orang nomor satu di negara adidaya, yang sepertinya tidak akan berbuat apa-apa untuk mengedepankan kepentingan Timur-Tengah pada umumnya.

Tentu, pesimisme yang mulai tumbuh di Timur-Tengah akan semakin menciptakan psikologi kehancuran yang akan membebani kawasan ini bagi terbentuknya sebuah negara yang demokratis dan modern. Para analis hampir mengamini perihal dampak terburuk dari aksi militer Israel, yaitu hadiah bagi kalangan ekstremis untuk semakin menggiatkan aksi mereka. Di manapun, aksi militer disambut gegap gempita oleh kalangan ekstremis sebagai momentum untuk justifikasi dan legitimasi mereka, terutama untuk melakukan tindakan ekstrem, sebagaimana dilakukan Israel di Gaza.

Maka dari itu, adu kekuatan antara Israel dan Hamas dalam beberapa tahun terakhir sebenarnya telah menuai kerugian yang sangat besar bagi warga kedua belah pihak. Sebab apapun perseteruan yang muncul di antara keduanya, yang akan menjadi korban adalah warga yang tidak bersalah. Di tengah-tengah menguatnya intensitas kebencian dan konflik, pada hakikatnya selalu ada mereka yang menyuarakan perdamaian. Siapapun akan mengalami kelelahan dengan konflik yang tidak berpangkal dan tidak berujung itu.

Salah Kalkulasi

Sementara ini, dunia terbelah dalam dua kubu, pro dan kontra. Ada yang memihak serangan Israel, tetapi lebih banyak yang mengutuk tindakan yang menyerupai barbarisme dan terorisme itu.

Tapi, jika ditelusuri secara mendalam, pada hakikatnya kedua belah pihak, baik Israel maupun Hamas harus mendapatkan otokritik yang adil. Sebab, sikap kaku yang diperlihatkan keduanya telah menimbulkan dampak yang negatif bagi tatanan global yang lebih mengedepankan kemanusiaan, keadilan dan kedamaian.

Menurut, Hasan Abu Thalib (2008), analis politik dari Pusat Strategi dan Politik Harian Al-Ahram, bahwa tragedi Gaza merupakan bentuk dari kegagalan kalkulasi politik Israel dan Hamas.

Israel menganggap bahwa serangan militer merupakan pilihan terbaik untuk menciptakan ketenangan bagi eksistensinya. Israel sebenarnya tidak cukup belajar dari masa lalu, tatkala mereka menyerang Hizbullah di Libanon Selatan pada tahun 2006. Justru, aksi militer yang dilancarkan pihaknya makin menjadikan Hizbullah semakin populer

Yang paling fatal dari salahnya kalkulasi politik Israel adalah jatuhnya korban warga sipil, di antara mereka anak-anak dan kalangan perempuan. Bagaimanapun popularitas Israel di dunia internasional saat ini semakin terpuruk. Sebab, apapun dalih yang dilontarkan mereka perihal serangan yang merupakan balasan atas serangan yang dilancarkan Hamas, sebenarnya tidak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi pihak Israel menyatakan, bahwa Hamas harus bertanggungjawab atas jatuhnya korban warga sipil.

Dalam hal ini, Israel ibarat lempar batu tapi sembunyi tangan. Siapapun akan memandang bahwa jatuhnya korban disebabkan serangan Israel yang brutal dan membabi-buta. Serangan mereka tidak mungkin mengenyahkan Hamas, karena kekuatan Hamas bukan pada fisik mereka, melainkan pada ideologi yang digunakan dalam gerakan mereka. Maka, cara terbaik untuk melumpuhkan Hamas adalah menghadirkan ideologi baru yang lebih relevan dengan kepentingan bangsa Palestina dan dunia pada umumnya.

Sedangkan bagi pihak Hamas, apa yang mereka lakukan dengan meluncurkan rudal ke Israel Selatan merupakan hal yang tidak bisa dibenarkan. Tindakan tersebut apapun merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan genjatan senjata yang ditanda-tangani sejak bulan Juni 2008.

Menurut Hasan Abu Thalib, tindakan perlawanan pihak yang terjajah, seperti Hamas merupakan hak, bahkan kewajiban. Tetapi, mengenyampingkan pertimbangan politik, strategi dan kepentingan Palestina secara umum, pasti akan menimbulkan kerugian yang tidak terbayarkan. Apalagi pernyataan Khaled Mash’al, bahwa serangan ke pihak Israel merupakan kehendak politik warga Palestina. Jika Israel melakukan balasan, maka dunia akan tergerak untuk memberikan dukungan terhadap Hamas.

Nalar politik seperti ini, menurut Hasan Abu Thalib, merupakan nalar politik yang tidak jitu. Ia hanya berdasarkan asumsi dan ambisi politik semata. Padahal, dalam setiap tindakan politik yang memberikan dampak besar harus ada pemikiran yang matang.

Memang, Hamas sudah mengantongi dukungan dari Iran, Suriah dan Hezbollah. Tetapi, harus diakui mayoritas pemimpin dunia Arab masih mempunyai pertimbangan politik yang berbeda. Dunia Arab yang lain memandang bahwa Israel merupakan kawan politik yang menguntungkan mereka. Karena itu, tidak sedikit dari mereka yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Dengan demikian, politik pada hakikatnya mempunyai kalkulasi tersendiri, apalagi yang berkaitan dengan masalah terpelik dalam 60 tahun terakhir. Konflik Israel-Palestina merupakan batu sandungan tersendiri bagi tatanan dunia. Ia akan menjadi agenda yang paling rumit untuk dipecahkan. Jalur agresi dan jalur diplomasi sudah terbukti selalu berakhir dengan kegagalan. Jalur yang masih mungkin adalah jalur destini.

Arab Moderat

Jika konflik Israel-Hamas begitu rumit, di manakah kira-kira solusinya? Tidak lain, solusinya terdapat pada kelompok Arab moderat. Yaitu negara-negara yang selama ini mendukung kesepakatan perdamaian antara pihak Israel dengan pihak Palestina. Mesir, Jordania, Libanon, Saudi Arabia dan Dubai, merupakan negara yang masih disegani di Timur-Tengah.

Tapi, sekarang mereka sedang menghadapi tantangan yang tidak mudah, karena warga Arab sedang pada puncak ketidakpercayaan terhadap para pemimpinnya. Bahkan, mereka disinyalir sebagai penyokong utama di balik serangan Israel ke Gaza. Utamanya, Mesir yang didemo di pelbagai belahan dunia, tidak terkecuali di Tanah Air.

Mesir diduga bersekongkol dengan Israel, karena beberapa hari sebelum serangan dilakukan, Presiden Husni Mubarak bertemu dengan Menteri Luar Negeri Isrel, Tzipi Livni. Pertemuan tersebut diduga sebagai upaya kesepakatan untuk menutup Rafah, yang merupakan perbatasan antara Mesir-Gaza. Upaya tersebut dilakukan oleh Israel, sehingga tokoh-tokoh kunci Hamas tidak bisa melarikan diri.

Maka dari itu, Hasan Narullah, pemimpin tertinggi Hizbullah mengecam habis-habisan Mesir sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas serangan Israel ke Gaza. Ia juga meminta kepada warga Mesir untuk melakukan protes besar-besaran terharap Husni Mubarak.

Para analis dan diplomat Mesir juga merespon balik terhadap tuduhan Hasan Nasrullah, karena Hamas juga sebenarnya melakukan kebijakan serupa, tatkala mereka tidak memperkenankan warga Palestina yang hendak keluar dari Rafah untuk melaksanakan ibadah haji. Sikap Hamas yang seperti itu juga menimbulkan reaksi dari pemerintah Mesir.

Apapun yang terjadi, sikap politik faksi Arab moderat harus mempertimbangkan kepentingan rakyat Palestina dan dunia Arab pada umumnya. Satu hal yang sangat fundamental adalah faksi Arab moderat harus mampu meyakinkan Israel, bahwa jalur serangan militer dan kekerasan, tidaklah tepat digunakan untuk menyelesaikan masalah pelik Israel-Hamas. Sesulit apapun sejatinya dapat menempuh jalur diplomasi. Memang butuh waktu dan kesabaran, tetapi itulah pilihan yang paling baik.

Faksi Arab moderat harus bisa meyakinkan Hamas dan Israel untuk mencari solusi yang lebih baik bagi masa depan mereka. Serangan militer telah terbukti gagal dan menelan korban yang tidak sedikit. Di samping, faksi Arab moderat harus mampu meyakinkan Fatah dan Hamas harus membuat nota-kesepahaman bagi kepentingan dalam negeri Palestina sendiri. Sebab, konflik internal tidak lebih pelik daripada konflik dengan Israel.

Dilema Israel

Serangan Israel ke Gaza sepertinya akan berlangsung dalam jangka waktu yang tidak menentu. Desas-desus genjatan senjata ditepis oleh kedua belah pihak. Ehud Olmerd, orang nomor wahid di Israel, menyatakan bahwa serangan dalam tiga hari pertama merupakan “tahapan awal” dari serangan dalam skala besar.

Pihak Israel memandang aksi tersebut sebagai balasan terhadap serangan yang dilancarkan oleh Hamas dalam beberapa minggu terakhir. Bahkan Benjamin Netanyahu, mantan Perdana Menteri Israel dalam sebuah wawancara dengan CNN menyatakan, bahwa ada sektiar 6000 rudal yang sudah dilancarkan oleh Hamas ke Israel dalam beberapa hari tahun terakhir.

Sementara, Hamas melalui juru bicaranya di stasiun televisi al-Jazeera, memastikan bahwa Hamas akan melakukan kejutan, yaitu mempersiapkan aksi balasan serupa, baik melalui udara maupun darat. Begitu pula tawaran dari Otoritas Palestina, Mahmud Abbas, ditolak mentah-mentah oleh Hamas, karena Abbas diduga kuat berada di balik aksi Israel terhadap pusat kekuatan Hamas di Gaza.

Maka dari itu, situasi di masa mendatang akan semakin rumit, karena kedua belah pihak bersikukuh pada pendiriannya untuk saling menafikan eksistensinya. Tidak ada satupun yang bisa memastikan jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak. Dunia internasional sepertinya juga menemukan jalan buntu untuk mengatasi konflik Israel-Hamas. Apalagi jika pihak-pihak luar ingin menambah runyam suasana, seperti Iran, Suriah dan Hizbullah, maka tidak menutup kemungkinan akan menjadi “perang dingin” yang akan menciptakan instabilitas global.

Kekhawatiran

Serangan Israel ke Gaza sebenarnya puncak dari kekhawatiran dan ketakutan akan ancaman pihak luar. Bagi Israel, Hamas merupakan mimpi buruk masa depan mereka. Sebab Hamas merupakan gerakan yang mempunyai konsistensi dalam melakukan perlawanan terhadap Israel, di saat gerakan-gerakan lainnya mengalami kelelahan sekaligus kekalahan.

Di samping itu, Hamas dikenal sebagai gerakan yang mempunyai basis massa yang militan dan mengakar kuat, karena mereka mempunyai agenda-agenda kerakyatan di pelbagai bidang, di antaranya pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi (Shaul Mishal & Avraham Sela: 2000). Meskipun Gaza terisolasi sejak kemenangannya dalam pemilu, tetapi Hamas bisa memastikan bahwa warga Gaza masih bisa menikmati udara segar melalui program-program sosial yang diprakarsai Hamas.

Maka dari itu, Hamas menjadi momok yang menakutkan bagi Israel. Jika ditekankanpun mereka masih bisa bergeliat, apalagi diberikan ruang besar. Bahkan, santer sebuah informasi, bahwa Hamas belakangan mendapatkan sokongan dari Iran, Suriah dan Hizbullah. Sejumlah rudal yang dilancarkan ke Israel merupakan sokongan dari Iran.

Menurut Benny Morris (2008), saat ini Israel merasa terancam. Setidaknya ada dua fakta yang tidak terbantahkan. Pertama, masyarakat Arab dan dunia Islam masih belum menerima kemerdekaan Israel sebagai sebuah negara. Meskipun, nota perdamaian sudah ditandatangani oleh Mesir dan Jordania pada tahun 1979 dan 1994. Alih-alih ingin mengakui eksistensinya, justru opini yang berkembang di tengah-tengah masyarakat adalah penolakan terhadap Israel. Kenyataan tersebut juga dengan mudah dapat ditemukan di Jakarta dan penjuru Tanah Air lainnya.

Kedua, lambat-laun dukungan negara Barat terhadap Israel akan luntur, khususnya Eropa terhadap Israel. Hal ini didukung dengan makin terbukanya dialog antara negara-negara petro-minyak dengan Barat. Pelan-pelan, kepentingan ekonomi dan politik juga mempengaruhi perhatian dengan negara-negara Barat terhadap Israel.

Sikap DKK PBB dalam aksi Israel terhadap Hamas mutakhir juga membuktikan, bahwa kekecewaan dunia terhadap Israel makin menjadi-jadi. Mereka menganggap serangan terhadap Gaza kali ini telah menyebabkan korban sipil yang tidak berdosa, karenanya harus dihentikan.

Seluruh penduduk dunia yang menonton serangan tersebut melalui layar televisi, maka akan mengorelasikan serangan tersebut dengan invasi Amerika Serikat terhadap Irak. Bahkan, Mahmud Mubarak (2008) mengusulkan agar Israel juga dibawa ke pengadilan internasional. Jika Saddam Husein saja bisa diberi sanksi keras atas tindakan politiknya, kenapa Israel juga tidak diperlakukan dengan hal yang sama?

Kekhawatiran Israel yang lain, karena mereka dalam beberapa tahun terakhir ini merasa terkepung oleh musuh-musuh utamanya. Dari arah timur, Iran mengancam Israel dengan proyek nuklirnya. Ahmadinajed dengan lantang menyuarakan, bahwa siap mengenyahkan Israel, dan ia juga menampik tragedi Holocaust sebagai sebuah fakta sejarah. Sebab itu, publik Israel dan Yahudi pada umumnya merasa terluka dengan sejumlah pernyataan politik Ahmadinajed.

Dari arah utara, Hizbullah yang merupakan musuh bebuyutan Israel merupakan lawan tangguh, yang tidak mudah ditaklukkan. Sudah terbukti, Israel mengalami kesulitan untuk menghancurkan kekuatan mereka. Menurut pihak Israel, Hizbullah mempunyai setidaknya 40.000 roket, yang jarak tempuhnya bisa mencapai Tel Aviv dan Dimona. Jika Iran serius melakukan serangan terhadap Israel, maka tidak menutup kemungkinan, Hizbullah akan bergabung dengan kekuatan Iran.

Sedangkan dari arah selatan, Israel berhadapan dengan kekuatan Hamas yang mempunyai militansi yang sudah tidak diragukan lagi. Mereka memang tidak mempunyai persenjataan yang kuat, sebagaimana Iran dan Hizbullah, tetapi Hamas dikenal dengan pasukan yang dipersenjatai bom bunuh diri. Mereka berani masuk ke kantong-kantong warga Israel untuk melancarkan bunuh diri. Belakangan, mereka disinyalir mempunyai roket Qassam dan Katyushas.

Di samping itu, menurut Morris, kekhawatiran internal yang tidak kalah pentingnya, bahwa jumlah orang-orang Arab di Israel makin bertambah. Jumlah mereka saat ini mencapai, 1,5 juta orang dari 5,5 juta penduduk Israel lainnya. Bahkan pada tahun 2050, populasi mereka diramal dapat mengalahkan populasi orang-orang Yahudi. Meskipun mereka menjadi bagian dari Israel dan mempunyai kursi di parlemen, tetapi afiliasi mereka terhadap Arab, dan Palestina pada khususnya tidak akan menyusut. Bisa-bisa, mereka juga akan mempunyai kekuatan politik yang cukup besar di masa mendatang.

Dengan demikian, Israel sebenarnya juga berada dalam situasi yang tidak menentu. Apalagi jika dunia Arab mempunyai kehendak politik yang solid untuk memperjuangkan hak-hak politik Palestina. Tindakan Israel yang melancarkan serangan secara brutal akan dengan mudah dipatahkan, tentu atas dukungan dunia internasional lainnya.

Namun, hal tersebut sepertinya hanya akan menjadi mimpi belaka, karena dunia Arab cenderung menyelamatkan nasibnya sendiri-sendiri. Mereka mengetahui betul tentang kekuatan Israel di pentas global, terutama dalam kaitannya dengan Amerika Serikat. Negara adidaya tersebut, diakui atau tidak, adalah negara yang sejauh ini dikendalikan oleh lobi-lobi Yahudi yang sangat handal.

Sikap Israel yang terkesan abai terhadap seruan dunia internasional terhadap aksinya ke Gaza sudah membuktikan, bahwa Israel mempunyai kekuatan yang tidak bisa disepelekan dalam berbagai sektor kehidupan. Israel mempunyai hubungan diplomatik dengan sebagian dunia Islam, yang memungkinkan adanya kesepakatan politik di antara mereka.

Tidak dibenarkan

Meskipun demikian, kekerasan yang dilancarkan Israel, dikecam oleh semua pihak. Sebab, korban dari serangan tersebut merupakan warga sipil, diantaranya kalangan perempuan dan anak-anak.

Memang, pihak Israel menyatakan, bahwa Hamas harus bertanggungjawab atas segala ekses yang terjadi akibat serangan kali ini. Tetapi hal tersebut sama sekali tidak bisa dibenarkan, karena persoalannya bukan siapa yang bertanggungjawab, tetapi korban setiap hari berjatuhan dalam jumlah yang besar. Serangan Israel yang terakhir merupakan serangan paling besar dengan tingkat intensitas yang besar pula. Bahkan Israel berencana menguasai jalur darat, di samping serangan melalui udara yang makin gencar.

Pada tataran yang lebih signifikan, Israel telah menampilkan sebagai penampilan politik lamanya yang identik dengan “kekerasan” dan “penjajahan”. Cara-cara tersebut sebenarnya sudah ditinggalkan dan dikutuk oleh masyarakat dunia. Dalam hubungan bilateral, semestinya cara-cara diplomatis digunakan sebagai solusi, daripada cara-cara agresi yang hanya akan menelan korban manusia dalam jumlah yang besar itu.

Dalam hal ini, tindakan Israel harus mendapatkan perhatian serius, sebab hanya akan menumbuhkan politik kekerasan dalam panggung politik global. Sebagian kelompok akan menjadikan tindakan Israel sebagia “dalil politik” mereka. Tentu, masyarakat dunia khawatir dengan maraknya terorisme, tetapi tindakan teroristik sebagaimana dilancarkan Israel juga tidak kalah mengkhawatirkan.

Sejak Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pengharaman pluralisme, relasi antar kelompok, khususnya antara kalangan mayoritas dan minoritas, baik dalam intra-agama maupun antar-agama mengalami keretakan dan goncangan yang cukup serius.

Puncaknya adalah tragedi Monas, yang menyebabkan puluhan aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyaninan (AKBB) terluka, dan beberapa orang diantaranya harus dioperasi secara intensif. Secara sepintas, tragedi tersebut dapat dipahami sebagai eskalasi “diskursus bernuansa kekerasan” menuju “tindakan kekerasan”. Perayaan sejumlah anak bangsa atas hari kelahiran Pancasila, yang mengamanatkan kebhinekaan berubah menjadi lautan kekerasan yang tak terbayarkan.

Pada hakikatnya diskursus tentang kekerasan merupakan sesuatu yang termaafkan, dan tidak bisa dihindari. Apalagi di zaman yang mana transformasi pemikiran menjadi sesuatu yang niscaya. Di belahan dunia manapun, pemikiran tentang radikalisme dan anarkisme berkembang, baik yang berlatarbelakang agama maupun politik. Tetapi, demokrasi mampu memastikan, bahwa diskursus bernuansa kekerasan tidak diperkenankan sama sekali untuk menjadi sebuah fakta kekerasan yang menyebabkan jatuhnya korban.

Di Singapura, mereka yang mempunyai pandangan keagamaan yang intoleran dapat dikatakan merupakan sebuah pandangan mayoritas. Mereka mempunyai pandangan yang menjurus pada klaim kebenaran. Tetapi, negara yang merupakan bagian terpenting dalam implementasi demokrasi telah mampu mengerem berbagai aksi kekerasan, karena kekerasan merupakan barang haram dalam ranah demokrasi. Mendiang Benazir Bhuto (2008) dalam Reconciliation: Islam, Democracy and the West, menyatakan bahwa tidak mungkin demokrasi dan kekerasan disandingkan dalam satu pelaminan negara.

Maka dari itu, hampir dapat dipastikan bahwa kekerasan merupakan musuh utama demokrasi. Kekerasan akan membuat demokrasi terseok-seok dan berada dalam ancaman terus-menerus. Lihat, misalnya, jika kelompok-kelompok yang mengusung ide dan tindakan kekerasan itu menguasi ruang publik, maka hampir bisa dipastikan tidak akan ada kemufakatan yang dapat diambil. Ia akan menjadi sebuah bentuk baru kediktatoran yang mengatasnamakan agama.

Tantangan Pluralisme

Politisasi kekerasan dapat dilihat dalam berbagai bentuknya. The Wahid Institute (2008) dalam laporan akhir tahunnya, melakukan pemetaaan terhadap tantangan pluralisme, terutama fakta kekerasan terhadap kelompok minoritas dalam delapan bentuk: Pertama, penyesatan terhadap kelompok/individu. Setidaknya dari Januari-Nopember 2008, telah terjadi 50 kasus penyesatan terhadap kelompok yang dianggap berbeda atau tidak sepaham. Adapun kelompok yang paling banyak menjadi korban dari penyesatan tersebut, yaitu Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

Kedua, kekerasan bernuansa agama. Sepanjang tahun 2008, tercatat ada 55 kasus yang menyebabkan kelompok minoritas menjadi korban aksi kekerasan sebuah kelompok yang kerapkali menganggap sebagai “penjaga akidah” dan representasi kalangan mayoritas. Uniknya, meskipun kelompok ini sudah terbukti melaksanakan aksi penyerangan terhadap berbagai kelompok yang dianggapnya “sesat” dan “menyimpang”, tetapi pemerintah tidak mengambil tindakan yang semestinya. Bahkan, tatkala sejumlah elemen kelompok masyarakat meminta pembubaran atas kelompok tersebut, tetapi pemerintah sepertinya tidak mempunyai keberanian untuk mengambil tindakan.

Ketiga, regulasi bernuansa agama. Sepanjang tahun 2008, ada 28 masalah yang merupakan bentuk regulasi bernuansa agama. Seiring dengan desentralisasi politik, maka daerah mempunyai kewenangan untuk membuat kebijakan sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang Otonomi Daerah. Tapi, kenyataannya masih muncul regulasi bernuansa agama yang kerapkali bukanlah mandat pemerintah daerah. Uniknya, semangat kebangsaan dan kebhinekaan tidak menjadi pertimbangan utama dalam penerbitan regulasi tersebut.

Keempat, konflik tempat ibadah. Setidaknya tercatat ada 21 kasus yang berkaitan dengan konflik tempat ibadah. Pada umumnya yang menjadi korban dari pendirian tempat ibadah adalah kelompok ibadah, utamanya kalangan Kristiani dan sebagian umat Hindu dan Budha. Pemerinta sebenarnya sudah mengeluarkan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, tahun 2006 perihal pedoman kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadat. Tetapi, faktanya di lapangan konflik pendirian tempat ibadah masih menjadi masalah serius, karena adanya pemahaman “sesat” terhadap kelompok lain dan ketakutan terhadap perbedaan dan keragaman keyakinan umat.

Kelima, kebebasan berpikir dan berekspresi. Ada 20 kasus yang dapat memberangus kebebasan berpendapat. Yang paling mutakhir adalah pencekalan atas syuting film Lastri. Masyarakat diindikasikan mempunyai sensitvitas yang tinggi terhadap masalah yang berkaitan dengan keyakinan dan ideologi tertentu.

Keenam, hubungan antar-agama. Sepanjang tahun 2008, ada sekitar 7 kasus yang dapat dipahami sebagai bentuk retaknya hubungan antar-agama. Fakta di lapangan, kebencian terhadap agama lain masih menjadi keyakinan sebagian umat. Hidup berdampingan secara rukun dan damai dipahami sebagai barang mahal.

Ketujuh, fatwa-fatwa keagamaan. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa fatwa keagamaan dimotori oleh MUI. Lembaga yang sejatinya hanya mengurusi internal umat Islam, tetapi dalam prakteknya mereka juga melakukan advokasi ruang publik, bahkan pandangannya kerapkali dijadikan sebagai justifikasi oleh negara, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat lokal. Tentu saja, tatkala fatwa tersebut memasuki ranah publik, utamanya dalam bentuk kebijakan publik, maka akan mementingkan kelompok tertentu dan merugikan kelompok lain. Kebangsaaan pada akhirnya merupakan taruhan utamanya.

Kedelapan, moralitas dan pornografi. Ada 17 kasus yang berkaitan dengan masalah moralitas dan pornografi. Lagi-lagi, yang hendak ditawarkan kepada ruang publik adalah moralitas menurut kacamata agama tertentu. Yang paling mutakhir adalah Undang-Undang Pornografi. Meskipun mendapat penentangan yang keras dari masyarakat, khususnya kelompok minoritas, tetapi UU tersebut tetap disahkan oleh DPR.

Tentu, sejumlah kasus di atas dapat dijadikan landasan kuat, bahwa pluralisme pada tahun 2008 mempunyai wajah suram. Yang mana, jika praktek tersebut tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pada tahun-tahun mendatang, maka disintegrasi dan konflik sosial akan semakin menganga.

Amartya Sen (2006) dalam Identity and Violence memberikan pendasaran sosiologis yang sangat menarik, bahwa kekerasan terjadi akibatnya menguatnya ilusi tentang identitas yang soliter dalam sebuah kelompok. Jika identitas tersebut tidak didialogkan dalam ruang publik dalam koridor demokrasi, maka akan menjadi parasit yang amat serius.

Dengan demikian, kembali kepada Pancasila dan UUD 1945 merupakan jalan keluar yang mesti diambil oleh pemerintah, DPR dan masyarakat. Sebab politik identitas hanya akan mengantarkan bangsa ini pada kubangan kehancuran dan ketidakpastian di masa mendatang.

By Yuri Alfrin Aladdin

Jakarta (ANTARA News) – In the morning of December 7, 2006, at an international seminar at the European Union Headquarters in Brussels, Belgium, a young Indonesian Muslim intellectual spoke about Islamic radicalism and pluralism in Indonesia.

His discourse was listened to with keen interest by about 100 people attending the seminar consisting of diplomats, European academics and researchers. “Who is that guy ? He is so young and smart. His elaborations on Islam and its tolerance toward other religions in Indonesia gave me a better perspective about this religion,” said a foreign diplomat who was sitting beside me.

The young Muslim intellectual was Zuhairi Misrawi, an executive director of the Moderate Muslim Society (MMS). A group of Indonesian Muslim scholars and journalists were invited to attend the seminar themed “Democracy and Pluralism: Indonesian Perspective” held by the European Union.

On Wednesday (Dec 31,2008) or about two years after the seminar in Brussels, I met Misrawi again. He still speaks fast with his Madura’s accent. A discussion about Islam and pluralism in Indonesia with him is always interesting. He talked so eagerly about the facts of puritanism and radicalism in Indonesia.

“It must be admitted that radicalism and puritanism in Indonesia have not been able to avoid political and cultural facts,” he said. This could be perceived firstly in the phenomenon of the emergence of religious movements that rely on radical and puritan perspectives.

For example, certain organizations such as HTI (Indonesian Liberation Party), FPI (Islam Defenders’ Front), MMI (Indonesian Mujahidin Council), DDII (Indonesian Islamic Propagation Council) and the like. These movements have strong organizational structures from the top level (central), provincial, district, sub district to the lowest level (village).

Secondly, he said, the adoption of local regulations known as Sharia-based bylaws. At national level, puritan groups were struggling to push through the anti-pornography bill.

The special regional autonomy law for Aceh allowing the implementation of Islamic Sharia laws had inspired other regions to do the same thing. Aceh was considered by radical-puritan groups as the first model for the application of Islamic sharia in Indonesia.

He said there were several local regulations dealing with the implementation of Islamic sharia. For instance, regional administration regulations banning the distribution and sale of alcoholic beverages, those requiring women to wear veils in Cianjur, West Java, and district chief decree about the implementation of Islamic sharia in Pamekasan, Madura, East Java.

In addition, the Indonesian Ulema Council (MUI), the institution that gives religious advice to the state, had recently issued a fatwa (religiuos edict) prohibiting liberalism, secularism, and pluralism.

Not only did MUI forbid the existence of the Ahmadiyah sect, it also indirectly legitimized and justified the commission of acts of violent against groups supporting secularism, liberalism, and pluralism, e.g. the attacks on and eviction of Ahmadiyah members in West Java and West Southeast Nusatenggara.

Inter-Faith Dialogue

Born on Feb. 5, 1977, in Sumenep, Madura, Zuhairi studied at the Al-Amien and Jami’iyyah Tahfidzil Quran Islamic boarding schools and was raised in the traditional ways of Nahdlatul Ulama, the country’s biggest Muslim organization with 35 million members.

After studying at Islamic boarding schools for almost six years, Zuhairi continued his education at the Ushuluddin Faculty of Al-Azhar University in Cairo, Egypt (1995-2000), and since 2006 had been studying in a post-graduate program at the Driyarkara Institute of Philosophy in Jakarta.

He was the author of several books such as Al-Quran Kitab Toleransi: Inklusivisme, Pluralisme dan Multikulturalisme (Al-Quran as The Book of Tolerance: Inclusivism, Pluralism and Multiculturalism).

Other books he wrote were Doktrin Islam Progresif (Doctrine of Progressive Islam), Islam Melawan Terorisme (Islam Against Terrorism), Dari Syariat menuju Maqashid Syariat (From Islamic Law to Purposes of Islamic Law), and Menggugat Tradisi (Deconstruction of Tradition).

Zuhairi was also a contributing writer in several books such as, Islam, Negara, dan Civil Society (Islam, State, and Civil Society), Syariat Yes, Syariat No (Islamic Law Yes, Islamic Law No), Menjadi Indonesia (Being Indonesia), Fikih Lintas Agama (Interfaith Islamic Jurisprudence), Gerakan Keislaman Pasca Orde Baru (Islamic Movement in the Post-New Order Era).

In an apparent move to prepare himself to enter the world of politics, he became head of the Inter-Religious Division of the Executive Board of Baitul Muslimin of the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDIP) at the end of 2007. Last month he officially became a member of the political party.

He has a great concern about the ongoing conflict in the Middle East. He said internal problems needed to be tackled first and that all Arab countries in the Middle East should put aside their respective interests and unite to boost their bargaining power with the US and Israel in resolving the ongoing conflict.

In 2006, he visited Israel at the invitation of the Israeli government under Prime Minister Ehud Olmert, to provide a second opinion on Israel’s policy towards Palestine. “I told the Israeli government that Israel should use ‘soft’ politics, not ‘hard’ politics toward Palestinians. Israel should knowthat the Palestinians are already weak,” he said.

Unlike other Muslim scholars, he supported the establishment of relations between Indonesia and Israel.

What about his opinion on Muslim tolerance toward other religions ? “My interaction with adherents of other religions has been intensive, especially when I was completing my studies at the University of Al-Azhar in Cairo and when actively engaged in the inter-faith dialog. The experiences have given me a new understanding about followers of other religions. They were all created in the image of God. On most occasions, they can become more courteous and friendly than fellow Muslims,” he said.

He believed that tolerance had been developing rapidly in various countries.

“Tolerance has opened up hearts and minds in order to embark on more civil, dialogical and humane civilization. Tolerance is not merely a discourse but it has been transformed into empirical praxis. An alliance of religions for tolerance is rapidly developing all over the world to provide hope for gender justice, peace and harmony,” Zuhairi said.

He explained that there were many institutions whose concerns were about inter-faith dialog such as INTERFIDEI in Yogyakarta, the Yayasan Wakaf Paramadina and Masyarakat Dialog Antar-Agama (MADIA) in Jakarta. These organizations have branches in various places in Indonesia.

“Based on these experiences, I am particularly urged to seriously and deeply read, dig up and understand the verses of the Qur’an. Is it true that the Quranic discourse has similar tone towards the other religions? Is it true that the Qur’an urges Muslims to spread around hate against other religions? Does Islam justify violence against followers of other faiths? What is truly meant by kafir (infidel) in the Quran? Does the reality of Christians’ warmth and good intentions have a theological foundation in the Qur’an?” he asked.

“For me, learning and understanding the Qur’an is an obligation of every Muslim. Since the age of five when I was studying Islam in pesantren (Islamic traditional boarding school) up to my enrolment in university, I was obliged to study the Qur’an and memorize it. Unlike previous studies, I now learn about the Qur’an so as to unearth values of tolerance in it,” he said.

How about an allegation circulating in some internet mailing list that he rejected the five times Islamic praying as an obligation for Muslims ?

“I’m a Muslim, I graduated from an Islamic boarding school. It’s impossible for me to say that. I have never said that. It is only the hardline Muslim people who slander moderate Muslims like me,” he said.(ANTARA*)

Kado tahun baru Hijriyah 1430 bagi warga yang tinggal di Jalur Gaza adalah rudal-rudal yang dijatuhkan tentara Israel. Tentu, kado tersebut merupakan kado terburuk yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Setidaknya, serangan brutal tersebut telah menewaskan 300 orang, dan 1000 orang lainnya luka-luka.

Sementara Israel berjanji akan melancarkan serangannya dalam beberapa hari yang akan datang hingga kekuatan Hamas yang berpusat di Jalur Gaza benar-benar lumpuh. Target utamanya adalah menangkap Pemimpin Hamas, Israel Haniya, dan para petinggi lainnya.

Tentu, dunia mengutuk tindakan Israel. DK PBB pun angkat bicara, meminta Israel agar menghentikan serangan yang menyebabkan jatuhnya korban dari warga sipil tersebut. Tidak ketinggalan pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri juga mengutuk aksi tersebut sebagai tindakan yang tidak manusiawi. Bahkan Menteri Kesehatan berencana menggelontorkan bantuan medis senilai 2 milyar rupiah.

Ali Jum’ah, Mufti Mesir, beberapa saat setelah serangan Israel ke Jalur Gaza langsung mengeluarkan fatwa, bahwa serangan tentara Israel merupakan tindakan yang mengingkari kemanusiaan. Jatuhnya korban warga sipil tidak dapat dibenarkan dalam kacamata agama apapun, khususnya Islam. Ia meminta Israel agar mengakhiri segala macam penindasan terhadap warga Palestina di Jalur Gaza (al-Syarq al-Awsat/28). Continue Reading »

Tiga ratus nyawa dan seribu lainnya terluka. Itulah pelanggaran kemanusiaan terbesar di penghujung tahun 2008, yang telah menghentakkan dunia. Tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah, karena Israel masih akan melanjutkan serangannya dalam beberapa hari mendatang, baik melalui serangan udara maupun serangan darat.

Serangan Israel terhadap Gaza kali ini memberikan makna tersendiri bagi kalangan Muslim, karena bertepatan dengan tahun baru Hijriah 1430. Menurut, Mahmud Mubarak (2008), serangan Israel kali ini menyimpan luka yang amat dalam, karena terjadi pada saat umat Islam merayakan tahun baru, dan atas dukungan dari negara-negara Arab lainnya, dan pihak Palestina juga.

Serangan Israel ke Gaza saat ini dianggap sebagai serangan paling dahsyat. Tidak pernah terjadi serangan dalam skala besar dalam beberapa tahun sebelumnya. Sebab itu, korbannya pun dalam jumlah yang besar pula. Tragisnya, rumah sakit yang berada di Gaza tidak dapat menampung dan melayani para korban, karena Gaza merupakan wilayah yang selama ini terisolir dari bantuan asing, terutama pasca-upaya penyerangan Hamas ke kantor Presiden Mahmud Abbas di Gaza. Continue Reading »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.