Setelah perang yang berlangsung tiga pekan, Israel dan Hamas menyepakati genjatan secara sepihak. Israel meminta Hamas agar menghentikan serangan ke wilayah Israel. Sedangkan pihak Hamas meminta agar perbatasan Gaza dibuka, blokade dicabut dan militer Israel mundur dari wilayah Jalur Gaza.
Permintaan tersebut sepertinya sulit dipenuhi. Sebab, sejauh ini belum ada perbincangan yang serius untuk mengambil jalan tengah. Keduanya, baik Israel maupun Hamas gagal membicarakan perihal pemecahan yang menguntungkan keduanya. Sejauh ini, masing-masing pihak bersiteguh pada pendiriannya.
Kondisi politik yang seperti ini, tentu mempunyai kerentanan tersendiri. Setiap saat, kedua belah pihak bisa mengambil langkah sesuai kehendaknya sendiri. Apalagi dari pihak Israel, penghentian serangan ini diduga berkaitan dengan pelantikan Obama sebagai Presiden AS ke-44 dan persiapan pemilu Israel pada tanggal 10 Pebruari nanti.
Adapun dari pihak Hamas, tindakan penghentian serangan rudal ke Israel juga diduga untuk menyelamatkan korban yang masih hidup dan memberikan kesempatan bagi bantuan kemanusiaan agar diterima oleh warga Gaza, yang dalam beberapa pekan terakhir sulit mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari.
Jadi, sebenarnya genjatan senjata kali ini belum memberikan kepastian tentang masa depan konflik Israel-Hamas. Keduanya telah gagal untuk membincangkan masalah perdamaian. Padahal, perdamaian merupakan harga mati untuk mengembalikan hubungan keduanya secara normal. Kenapa harus berdamai?
Pertama, Sikap saling menafikan kedaulatan di antara kedua belah pihak sudah terbukti gagal. Sikap Hamas yang tidak mengakui eksistensi Israel harus diakui merupakan sikap yang sama sekali tidak realistis. Israel sudah merdeka sejak tahun 1948, dan pada tahun 1949 diakui oleh PBB.
Di pihak lain, Hamas merupakan salah satu partai pemenang pemilu di Palestina pada tahun 2006. Secara demokratis, Hamas mempunyai hak yang sama untuk diakui sebagai partai yang mempunyai kekuatan politik di Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Sikap Israel yang menolak eksistensi Hamas merupakan langkah yang tidak realistis dan hanya sebuah kekhawatiran yang berlebihan.
Kedua, ideologi dan tindakan kekerasan yang dilakukan keduanya juga menelan korban yang besar. Di pihak Israel ada belasan korban, sedangkan di pihak Hamas ada ribuan warga yang tewas dan luka-luka. Kekerasan hanya akan menambah kesengsaraan bertambah. Persoalannya bukan pada besar kecilnya korban yang jatuh, tetapi pada instabilitas dan psikologi ketakutan yang ada pada keduanya.
Sebagaimana dalam teori spiral kekerasan, bahwa kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan yang lain. Artinya, Hamas yang jauh lebih besar korbannya akan semakin solid karena melahirkan generasi-generasi yang siap melakukan pembalasan. Sementara, Israel akan melakukan pembelaan agar warganya selamat dari gangguan Hamas dengan menggunakan cara kekerasan juga.
Perdamaian
Maka dari itu, pilihan yang paling realistis dan valuable bagi kedua belah pihak yaitu menempuh kembali jalur perdamaian. Edward W. Said (2002),intelektual Kristen-Palestina, memandang tidak ada pilihan lain yang lebih tepat untuk menyelesaikan masalah Israel-Palestina kecuali masing-masing pihak meyakini tentang pentingnya perdamaian secara adil dan menguntungkan kepentingan kedua belah pihak.
Memang, selama ini kerapkali dilakukan perdamaian antara Israel-Palestina, antara lain Camp David, Wyne River, Oslo, Syarm Syaikh, Teba dan yang terakhir Annapolis. Apa yang salah dari pertemuan tersebut?
Said memandang, bahwa nota perdamaian yang dilakukan kedua-belah pihak secara nyata tidak menyentuh inti persoalan. Yaitu soal kedaulatan Palestina. Misalnya, kesepakatan Oslo yang merupakan langkah maju dari kesepakatan Israel-Palestina, karena pihak Israel bersedia memberikan Jalur Gaza dan Tepi Barat kepada Palestina. Yang kurang dari kesepakatan tersebut, menurut Said, pihak Israel hanya memberikan “otoritas otonomi”, bukan “otoritas mutlak”. Faktanya, Jalur Gaza dan Tepi Barat masih dikontrol oleh Israel.
Kesepakatan yang relatif maju adalah kesepakatan Annapolis, yaitu perihal solusi dua negara (two-state solution). Kesepakatan ini sebenarnya akan disahkan pada akhir tahun 2008 di masa jabatan George W. Bush. Hanya saja tersandung oleh adu-rudal Israel-Hamas.
Maka dari itu, kedua belah pihak harus membicarakan kembali soal solusi dua negara tersebut. Titik-tekannya, kesepakatan yang akan dibuat harus diletakkan dalam konteks menguntungkan kedua belah pihak. Belajar dari kegagalan kesepakatan yang lalu, bahwa Israel kerapkali mendekte mediator, baik AS maupun negara-negara Eropa, untuk menjadikan Israel sebagai pihak yang paling mendominasi.
Ada sejumlah masalah penting yang harus disepakati, antara soal genjatan senjata secara permanen. Kedua belah pihak tidak lagi diperkenankan untuk melakukan penyerangan secara sepihak dengan dalih apapun. Keduanya juga harus mengakui eksistensi wilayah masing-masing, karena hanya dengan cara itulah perdamaian dapat ditempuh. Israel secara de facto adalah negara yang mempunyai dukungan kuat dari AS, negara-negara Eropa dan sebagian besar negara Arab. Sedangkan Palestina juga mempunyai dukungan dari negara Arab, Amerika Latin dan dunia Islam lainnya.
Faktor AS, Iran dan Suriah
Sebenarnya, faktor yang paling dominan dalam konflik Israel-Palestina adalah faktor AS. Sebab seluruh kesepakatan di antara keduanya tidak pernah lepas dari Peranan AS. Sementara AS selama ini hanya merepresentasikan kepentingan Israel dan kerapkali mengabaikan kepentingan Palestina. Intervensi lobi-lobi Yahudi di Senat, Kongres dan Gedung Putih masih sangat kuat.
Pertanyaannya, apakah Obama akan menghadirkan sesuatu yang baru bagi masa depan perdamaian Israel-Palestina? Sejauh ini, Obama menjanjikan perdamaian di Timur-Tengah terwujud, sebagaimana disampaikan melalui Hillary Clinton yang akan menjabat sebagai Menteri Luar Negeri.
Hanya saja, publik masih ragu dengan kebijakan politik luar negeri Obama, karena besarnya pengaruh lobi-lobi Yahudi di AS. Terakhir, Israel dan AS menandatangani kesepakatan larangan pengiriman bantuan senjata ke Palestina. Sementara Israel setiap saat mendapatkan suplai persejataan yang paling modern sekalipun.
Di pihak Hamas, ada hal yang amat rumit dalam mencapai perdamaian. Sebab, Hamas bukanlah pihak yang tanpa kepentingan. Ia bersikap keras terhadap Israel, karena selama ini mendapat dukungan dari Iran dan Suriah. Kedua pihak ini adalah negara-negara yang selama ini merasa terancam dengan keberadaan Israel. Meskipun Iran dan Suriah berusaha menutup-nutupi tentang “koalisi terselubung” di antara mereka, tetapi dalam KTT Doha beberapa hari yang lalu publik pun mencium aroma koalisi itu. Ada bau Iran dan Suriah dalam serangan Hamas ke Israel.
Maka dari itu, penyelesaiannya adalah kemandirian dan kemerdekaan politik di antara kedua belah pihak. Palestina harus bisa meyakinkan Hamas, bahwa kepentingan nasional harus diletakkan di atas segala-galanya daripada kepentingan Iran dan Suriah. Pihak Fatah dan partai-partai politik lainnya di Palestina harus mampu meyakinkan Hamas, bahwa ideologi dan tindakan kekerasan bukanlah solusi bagi masa depan Palestina.
Di pihak lain, AS harus mampu meyakinkan Israel, bahwa anak emasnya akan aman di samping Palestina jikalau mampu memastikan bahwa perdamaian yang menguntungkan pihak Palestina akan menguntungkan pihaknya pula.
